Iman Kepada Takdir [Part 3]

Pada bagian sebelumnya, kita telah sedikit membahas mengenai cara memahami takdir, dan di luar sana, ada orang-orang yang salah dalam memahami takdir. Siapakah mereka?

Qadariyyah dan Jabariyyah

Mereka adalah orang-orang yang salah dan berat sebelah dalam memahami takdir. Kelompok yang satu memahami bahwa segala sesuatu terjadi murni karena kehendak manusia, kelompok ini disebut qadariyah. Pemahaman seperti ini salah, mereka mengatakan takdir itu tidak ada, seolah-olah Allah Ta’ala tidak memiliki kehendak sedikit pun dalam kehidupan manusia. Kalau begitu mereka menganggap Allah Ta’ala lemah, tak mampu menghendaki apapun pada makhlukNya. Subhanallah. Padahal Allah Ta’ala yang menciptakan manusia, Allah Ta’ala yang menguasai alam semesta dan seisinya, Allah Ta’ala yang mengatur urusan makhlukNya, mana mungkin Allah Ta’ala tidak dapat menghendaki apapun? Maka telah jelas sekali dijelaskan dalam Al-Qir’an bantahan-bantahan terhadap pemikiran qadariyah yang mendustakan takdir. Cukuplah ayat-ayat ini sebagai bukti.

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata.” (QS. Al-Qamar: 49-50).

“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al-Furqan: 2).

“Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, kandungan rahim yang kurang sempurna, dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.” (QS. Ar-Ra’d: 8)

Sekarang kita lanjut ke kelompok yang kedua. Kelompok ini merupakan kebalikan dari kelompok Jabariyah. Kelompok ini mengatakan bahwa manusia tidak punya kemampuan apa-apa. Segala sesuatu telah ditakdirkan oleh Allah Ta’ala. Kewajiban kita hanya mengikuti takdir. Jadi menurut pemahaman mereka, orang yang bermaksiat tidak salah karena berarti mereka telah taat untuk mengikuti takdir. Artinya, iblis adalah makluk yang paling taat karena dia mengikuti takdir Allah Ta’ala. Ini sangat tidak masuk akal. Jelas sekali pemahaman ini keliru. Allah Ta’ala telah memberi kemampuan kepada manusia, Nabi ﷺ pun telah memerintahkan kita untuk berusaha bukan berdiam diri dan pasrah sebagaimana telah dibahas pada bagian-bagian sebelumnya.

Adapun pemahaman yang benar terhadap takdir adalah pemahaman yang seimbang dan ditengah-tengah, bahwa Allah Ta’ala memiliki kehendak dan Allah Ta’ala juga memberi manusia kemampuan dan kehendak. Akan tetapi, kehendak manusia itu tidak terlepas dari kehendak Allah Ta’ala. Wallahu a’lam.

 

Manfaat dan Hikmah Beriman kepada Takdir Allah

Mungkin di antara kita masih ada yang bertanya dan belum memahami, mengapa kita harus iman kepada takdir menjadi salah satu rukun iman dan kita diperintahkan untuk mengimaninya? Ketahuilah, ketika Allah Ta’ala menurunkan suatu perintah, itu tidak lain karena ada maksud dan hikmah yang sangat agung di baliknya, hanya terkadang kita yang terlalu bodoh dan dan merasa bahwa perintah tersebut tidak bermakna. Padahal di balik perintah tersebut ada hikmah dan manfaatnya, bukan sekadar ada, tapi banyak, baik dirasakan secara langsung maupun tidak langsung.

Berbahagialah orang-orang yang beriman kepada takdir, karena berarti dia melakukan ibadah kepada Allah Ta’ala karena salah satu cakupan ibadah adalah perkataan hati yang Allah Ta’ala ridhoi dan cintai, salah satunya berupa pembenaran terhadap takdir. Berbahagialah orang-orang yang beriman kepada takdir karena akan bertambah keikhlasannya dalam beribadah kepada Allah Ta’ala, karena dia tau bahwa semua urusan itu ditangan Allah Ta’ala, dan semesta alam ada dalam kuasaNya. Amat mudah bagi Allah Ta’ala untuk membuat semua manusia membencinya. Maka dari itu untuk apa dia berbuat riya dan ingin dipuji manusia?

Berbahagialah orang-orang yang beriman kepada takdir, karena mereka akan menjadi orang yang kuat dalam pengharapan dan selalu berbaik sangka kepada Allah Ta’ala, karena mereka yakin bahwa Allah Ta’ala tdk akan menentukan sesuatu kecuali baik baginya dan bahwa Allah Ta’ala adil terhadap hamba-hambaNya. Maka dia selalu berharap kepada Allah Ta’ala, tidak akan beputus asa untuk terus berdoa. Karena dia yakin mungkin kalau saat berdoa langsung dikabul, mungkin itu malah akan buruk bagiya, karena dia yakin bahwa Allah Ta’ala yang paling tau kondisi yang mana yang paling baik bagi hambaNya.

Berbahagialah orang-orang yang beriman kepada takdir karena orang yang beriman kepada takdir akan menjadi orang yang sabar dan tegar dalam menghadapi berbagai macam ujian dan musibah. Tegar seperti karang, meskipun ombak gelombang kehidupan menerjang. Berbahagialah karena beriman kepada takdir membuahkan kesabaran menghadapi berbagai kesulitan dan takdir yang menyakitkan, bersabar dengan kesabaran yang indah, sabar tanpa mengeluh kepada siapapun kecuali kepada Allah Ta’ala.

Ketika mereka sakit, mereka akan berkata ‘Alhamdulillah, Allah Ta’ala mengehendaki kebaikan kepada saya, dengan sakit ini, Allah Ta’ala hendak menghapuskan dosa dosa saya’. Ketika hartanya dicuri, mereka bersyukur, mungkin kalau tetap harta itu akan jadi keburukan (lalai). Maka Allah Ta’ala jadikan harta itu raib. Hidupnya akan menjadi tenang, berbeda dengan orang yang kurang beriman, ketika dia ditimpa musibah, dia berkata, “Ya Allah, dosa apa saya kepada engkau?” Manusia karena ketidaktahuannya dan kebodohannya tidak tau bahwa ada kebaikan yang Allah Ta’ala kehendaki baginya melalui musibah itu.

Maka berbahagialah mereka yang beriman takdir, karena pada orang-orang yang berimanlah rasa ridha terhadap segala ketentuan Allah Ta’ala, hingga sebesar apapun musibah, itu akan terasa ringan di hatinya. Karena bagi mereka kekuatan yang luar biasa yang tidak akan ditemukan kecuali dalam orang yang beriman, hingga Rasul ﷺ merasa kagum kepadanya.

Itulah sebagian hikmah dan manfaat dari beriman kepada takdir. Percayalah, hikmah dan manfaat sebenarnya jauh lebih banyak akan tetapi tulisan ini memang tidak akan pernah mempu untuk mengungkapkan semuanya.

 

Inilah kiranya sepenggal tulisan tentang takdir. Semoga kita dapat memahaminya dan mengamalkannya dengan sebaik-baik pemahaman dan pengamalan. Percayalah bahwa keimanan terhadap takdir akan membawa manfaat yang banyak. Semoga Ta’ala Allah menjadikan kehidupan kita berada dalam terangnya cahaya iman, hingga kelak menjadi jaminan keselamatan ketika menghadap kepadaNya pada hari pembalasan. Aamiin.

 

Referensi:

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah karya Syaikh Utsaimin

Kitab Tauhid 2 karya Tim Ahli Tauhid

Syarah Prinsip-Prinsip Dasar Keimanan karya Syaikh Utsaimin diunduh dari www.islamhouse.com

Pelajaran Tauhid untuk Tingkat Lanjutan karya Dr. Abdul Aziz bin Muhammad

Syarah Aqidah Wasithiyah karya syaikh Utsaimin

-Catatan dauroh Sikap Mukmin terhadap Takdir Allah ‘Azza wa Jalla bersama Ustadz Abu Yahya Badrussalam hafizahullahu ta’ala

Rekaman kajian Iman kepada Takdir oleh Ust. Abdullah Taslim, M.A.

Share this:

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *