Tidak Menikah Karena Ilmu

Bolehkah tidak menikah dengan alasan menuntut ilmu sebagaimana para Imam (semisal Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Al Barbahary rahimahumallahu)?

Tidak boleh, karena :

Pertama, hendaknya kamu lebih mengikuti peng-hulu bagi manusia, yaitu baginda yang mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama. Yang mana beliau shallallahu ‘alaihi wasallama melarang umatnya untuk hidup membujang. Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu berkata :

رَدَّ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ التَّبَتُّلَ ، وَلَوْ أَذِنَ لَهُ لاَخْتَصَيْنَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama melarang Utsman bin Madz’un hidup membujang. Seandainya beliau mengizinkan, tentu (untuk membujang tersebut -pent-) kami rela mengebiri diri”

(Bukhari no. 5073 dan Muslim no. 1402)

Beliau  shallallahu ‘alaihi wasallama memerintahkan Utsman bin Madz’un untuk menikah karena menikah ada kebaikan bagi umat, memuliakan para wanita kaum muslimin, melestarikan keturunan, menjaga kemaluan, dan menundukkan pandangan. Kalian semua bisa melihat bahwa peperangan yang terjadi memakan banyak korban dari kaum muslimin. Lantas bagaimana terus menjaga ruh-ruh perjuangan kaum muslimin jika tidak menikah?

Menikah merupakan bentuk peneladanan kita terhadap sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wasallama. Sebagaimana terdapat kisah, tiga orang yang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama :

Laki-laki pertama mengatakan : Aku akan berpuasa terus menerus dan tidak berbuka.

Laki-laki kedua mengatakan : Aku akan terjaga terus dan tidak tidur.

Laki-Laki ketiga mengatakan : Aku tidak akan menikahi perempuan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama mengingkari hal tesebut, sebagaimana hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :

جَاءَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا فَقَالُوا وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ . قَالَ أَحَدُهُمْ أَمَّا أَنَا فَإِنِّى أُصَلِّى اللَّيْلَ أَبَدًا . وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلاَ أُفْطِرُ . وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلاَ أَتَزَوَّجُ أَبَدًا . فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّى لأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ ، لَكِنِّى أَصُومُ وَأُفْطِرُ ، وَأُصَلِّى وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى »

“Ada tiga orang yang pernah datang ke rumah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka bertanya tentang ibadah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika mereka diberitahu, tanggapan mereka seakan-akan menganggap apa yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambiasa-biasa saja.

Mereka berkata, “Di mana kita dibandingkan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Padahal dosa beliau yang lalu dan akan datang telah diampuni.”

Salah satu dari mereka lantas berkata, “Adapun saya, saya akan shalat malam selamanya.”

Yang lain berkata, “Saya akan berpuasa terus menerus, tanpa ada hari untuk tidak puasa.”

Yang lain berkata pula, “Saya akan meninggalkan wanita dan tidak akan menikah selamanya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Kaliankah yang berkata demikian dan demikian. Demi Allah, aku sendiri yang paling takut pada Allah dan paling bertakwa pada-Nya. Aku sendiri tetap puasa namun ada waktu untuk istirahat tidak berpuasa. Aku sendiri mengerjakan shalat malam dan ada waktu untuk tidur. Aku sendiri menikahi wanita. Siapa yang membenci ajaranku, maka ia tidak termasuk golonganku.”

(Bukhari no. 5063 dan Muslim no. 1401)

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallama juga mengatakan :

يا معشرَ الشَباب مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa diantara kalian yang mampu untuk menikah maka segeralah menikah. Karena hal tersebut lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaknya ia berpuasa. Karena dalam puasa itu terdapat benteng”

(Bukhari 5066 dan Muslim 1400)

Kedua, Apakah hal yang penanya katakan tadi benar? Maksudnya, apakah benar Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah tidak menikah karena sebab ilmu? Ini tidak benar, sebagaimana tentang Imam Al Barbahary juga tidak benar. Banyak sekali tulisan yang membantah pernyataan ini.

(Disarikan dari jawaban Syaikh Muhammad bin Hady Al Madkhaly di http://ar.miraath.net/fatwah/10957 dengan penambahan kelengkapan redaksi hadits dan pengurangan bagian yang tidak diperlukan)

Share this:

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *