Kemuliaan Abu Bakar Ash-Shiddiq Radiyallahu ‘Anhu

Ketika ditanya tentang orang-orang yang mulia, kita pasti memiliki jawaban sendiri-sendiri bukan? Ada yang menjawab ayah saya, ibu saya, presiden, pahlawan, dan sebagainya. Tetapi tahukah kita, ada seseorang yang kaum muslimin telah bersepakat atas kemuliaannya setelah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Seseorang itulah yang akan diceritakan kisahnya. Ya, beliau adalah Abu Bakar radiyallahu ‘anhu, sahabat nabi, yang melalui beliau dan sahabat nabi lainnya, risalah warisan para nabi ini sampai kepada kita.

Nama asli beliau adalah ‘Abdullah bin ‘Utsman bin ‘Amir bin Ka’ab bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu-ai bin Ghalib bin Fihr. Beliau lahir sekitar 2,5 sampai 3 tahun setelah Rasulullah lahir. Ayahnya bernama ‘Utsman bin ‘Amir sedangkan ibunya bernama Salma binti Shakhr bin Amir bin Ka’ab bin Sa’ad bin Ta-im. Anak-anaknya bernama ‘Abdullah, Asma’, ‘Aisyah, ‘Abdurrahman, Muhammad, dan Ummu Kultsum.

Abu Bakar radiyallahu ‘anhu adalah seseorang yang putih kulitnya, kurus tubuhnya, tipis kedua pelipisnya, kecil pinggangnya. Wajahnya selalu berkeringat dan matanya hitam. Kebaikan akhlaqnya tidak diragukan lagi, bahkan sejak zaman jahiliyah, sejak zaman sebelum rasulullah datang.

Perjalanan beliau sebagai sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dimulai ketika Allah menurunkan cahaya hidayah ke dalam hatinya untuk memeluk agama yang dibawa oleh rasulullah. Sebagai sahabat yang menemani nabi sejak awal perjuangan, keutamaan dan kemuliaan Abu Bakar radiyallahu ‘anhu tak perlu dipertanyakan lagi.

Abu Bakar adalah laki-laki dewasa yang pertama yang menyambut ajakan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam untuk keluar dari zaman kegelapan menuju zaman terang benderang. Beliaulah orang yang pertama berjuang dan berdakwah di jalan Allah Ta’alabersama nabi dan beliau pula orang yang pertama disakiti di jalan Allah Ta’ala.

Beliau membenarkan semua perkataan nabi, selalu membenarkan, bahkan ketika orang-orang mulai mendustakan dan melepaskan diri dari apa yang nabi bawa. Pagi hari setelah malam isra mi’raj, orang-orang musyrikin membicarakan nabi-mereka bertanya bagaimana mungkin nabi dapat melakukan perjalanan dari masjidil haram ke masjidil aqso dalam waktu satu malam. Sebagian orang murtad, seolah-olah mereka tak percaya akan peristiwa itu. Ketika orang-orang menanyakan kepada Abu Bakar radiyallahu ‘anhu mengenai isra mi’rajnya nabi, maka Abu Bakar radiyallahu ‘anhu berkata, “Apakah beliau sungguh-sungguh telah mengatakannya? Kalau memang benar beliau sudah mengatakan hal itu, sungguh beliau benar.”

Maka hingga saat ini, tak heranlah kita dengan gelar ash-shiddiq yang setia berada mendampingi nama Abu Bakar, karena memang beliaulah seseorang yang selalu membenarkan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena memang benarlah apa yang nabi katakan dan nabi bawa, hanya terkadang akal manusialah yang merasa lebih tau, atau mungkin terlalu sombong untuk beriman terhadap apa yang Allah Ta’ala turunkan.

Kemuliaan Abu Bakar radiyallahu ‘anhu bukan hanya itu. Beliaulah orang yang setia menemani nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masa-masa berbahaya, yaitu masa ketika orang-orang Quraisy gagal menghentikan dakwah nabi melalui paman Nabi. Maka mereka berusaha menghentikan langkah-langkah dakwah Nabi dengan cara yang amat keji, yaitu dengan berusaha membunuh nabi. Malam itu, ketika orang-orang Quraisy mengepung rumah Nabi, Abu Bakar radiyallahu ‘anhu menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meninggalkan Makkah menuju Gua Tsur.

Jangan kita bayangkan perjalanan zaman dahulu sama seperti sekarang; sudah ada jalan raya dengan berbagai kendaraan yang siap mengantar. Bahkan perjalanan itu amat membahayakan! Jalanannya tandus. Teramat jauh lagi terjal. Bukitnya tinggi, amat sulit didaki hingga kaki-kaki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lecet. Ditambah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berada dalam ancaman kaum musyrik Makkah. Andaikan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar tertangkap, apakah hanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan disakiti? Tidak! Menemani orang yang sedang diancam dan dicari berarti menjadikan diri sendiri diancam dan dicari pula. Tetapi lihatlah bagaimana Abu Bakarradiyallahu ‘anhu mengorbankan harta bahkan nyawanya untuk menemani Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam menapaki jalan demi jalan dalam ancaman yang membahayakan.

Lihat pula ketika Abu Bakar radiyallahu ‘anhu dan Rasulullah sampai di Gua Tsur, Abu Bakarradiyallahu ‘anhu melarang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk masuk sebelum dirinya masuk. Tahukah mengapa? “Agar jika ada sesuatu di dalamnya, biarlah hanya beliau yang mengalaminya”. Dan ketika ternyata di dalam gua tersebut terdapat lubang, Abu Bakar menutupnya dengan kainnya dan menutup lubang yang tersisa dengan kakinya. Beliau menutup lubang di gua itu dengan kakinya! MasyaaAllah, padahal dalam gua tersebut, tidak ada jaminan sedikit pun bahwa lubang itu aman dari binatang berbahaya. Manusia manakah yang berani berkorban sejauh itu? Kalau kita mah boro-boro, melihat lubangnya saja sudah takut duluan (itu saya sih)

Setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun masuk dan tertidur di dalam gua. Tiba-tiba seekor binatang berbisa menyengat kaki Abu Bakar radiyallahu ‘anhu, namun beliau tidak bergeming sedikitpun karena takut membangunkan nabi. MasyaaAllah, beliau tak bergeming sedikitpun. Hingga air matanya menetes menahan rasa sakit yang bukan main. Lihatlah bagaimana perjuangan dan pengorbanan Abu Bakar radiyallahu ‘anhu untuk menemani dan membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap menyampaikan risalah kepada umat manusia-hingga sekarang kita dapat menikmatinya sembari duduk dengan aman.

Kemuliaan Abu Bakar radiyallahu ‘anhu tidak cukup sampai di situ. Abu Bakar radiyallahu ‘anhujuga seorang sahabat yang mulia akhlaknya, bertanggungjawab untuk menafkahi keluarganya, tekun ibadahnya, teguh keimanannya, berwibawa dalam sifat dan sikapnya dan dalam keilmuannya. Ya, beliaulah yang paling dalam ilmunya di antara para sahabat.

Suatu hari ketika islam telah menguasai jazirah Arab, ketika Makkah telah ditaklukkan, ketika orang-orang berbondong-bondong menyambut hidayah islam dan syahadat diucapkan, dan telah selesai sempurna pula risalah disampaikan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberkhutbah dan berkata dalam khutbahnya,

“Sesungguhnya Allah telah menyuruh seorang hamba untuk memilih dunia atau memilih ganjaran pahala dan apa yang ada di sisi-Nya, dan hamba tersebut memilih apa yang ada di sisi Allah”

Mendengar hal itu, Abu Bakar radiyallahu ‘anhu menangis, maka para sahabat heran mengapa ia menangis padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menceritakan seorang hamba yang memilih kebaikan. Akhirnya para sahabat tahu bahwa hamba tersebut tidak lain adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri- bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih untuk kembali kepada Allah Ta’ala daripada menikmati lebih lama kemewahan dunia. Dan hanya Abu Bakar-lah yang mengerti hingga ia menangis. Karena Abu Bakar-lah yang paling mengerti serta berilmu di antara para sahabat. Lihatlah betapa dalam ilmu yang dimiliki Abu Bakar radiyallahu ‘anhu.

Itulah kemuliaan-kemuliaan Abu Bakar Ash-Shiddiq, manusia paling mulia setelah nabishallallahu ‘alaihi wa sallam. Masih banyak kemuliaan yang lain tetapi tulisan ini memang tak akan mampu mengungkapkan. Sebagai seorang manusia, kita tau bahwa Abu Bakarradiyallahu ‘anhu tidaklah suci dari dosa dan noktah hitam. Akan tetapi kebaikan dan kemuliaannya itu telah menutupi dosa-dosa dan kesalahannya.

Teramat wajarlah ketika nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan tentang 10 orang yang dijamin masuk surga, Abu Bakar radiyallahu ‘anhu menjadi nama yang pertama kali disebut. Teramat wajarlah ketika kaum muslimin bersepakat siapa manusia yang paling mulia setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar lah orangnya. Teramat wajarlah ketika seorang sahabat bertanya apakah ada manusia yang dipanggil dari semua pintu surga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab ada dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berharap Abu Bakarlah orangnya. Karena keimanan, keutamaan, kemuliaan, dan perjuangannya-untuk membela agama Allah dan rasulNya memang tidak ada duanya.

 

Referensi:

rekaman kajian Sirah Abu Bakar, ust. Abu Zubeir Al-Hawaary

Sirah Nabawiyyah karya Syaikh Syafiyurrahman Al-Mubarakfury

http://www.kisahmuslim.com

Inilah Faktanya karya Dr. ‘Utsman bin Muhammad al-Khamis

 

Pemurajaah:

Ustadz Chandra Aditya, Lc.

Share this:

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *