Agar Orang Tuamu Semangat Menuntut Ilmu (Bagian 5)

Lihatlah para salaf telah mendahului kita dalam begitu banyak kebaikan. Bagaimana semangat mereka mendakwahi dan menginginkan kebaikan terhadap orang yang mereka cintai. Mari kita simak bersama:

عَنْ أَبِى كَثِيرٍ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنِى أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ كُنْتُ أَدْعُو أُمِّى إِلَى الإِسْلاَمِ وَهِىَ مُشْرِكَةٌ فَدَعَوْتُهَا يَوْمًا فَأَسْمَعَتْنِى فِى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَا أَكْرَهُ فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَنَا أَبْكِى قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى كُنْتُ أَدْعُو أُمِّى إِلَى الإِسْلاَمِ فَتَأْبَى عَلَىَّ فَدَعَوْتُهَا الْيَوْمَ فَأَسْمَعَتْنِى فِيكَ مَا أَكْرَهُ فَادْعُ اللَّهَ أَنْ يَهْدِىَ أُمَّ أَبِى هُرَيْرَةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « اللَّهُمَّ اهْدِ أُمَّ أَبِى هُرَيْرَةَ ».

فَخَرَجْتُ مُسْتَبْشِرًا بِدَعْوَةِ نَبِىِّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَلَمَّا جِئْتُ فَصِرْتُ إِلَى الْبَابِ فَإِذَا هُوَ مُجَافٌ فَسَمِعَتْ أُمِّى خَشْفَ قَدَمَىَّ فَقَالَتْ مَكَانَكَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ. وَسَمِعْتُ خَضْخَضَةَ الْمَاءِ قَالَ – فَاغْتَسَلَتْ وَلَبِسَتْ دِرْعَهَا وَعَجِلَتْ عَنْ خِمَارِهَا فَفَتَحَتِ الْبَابَ ثُمَّ قَالَتْ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ –

قَالَ – فَرَجَعْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَتَيْتُهُ وَأَنَا أَبْكِى مِنَ الْفَرَحِ – قَالَ – قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَبْشِرْ قَدِ اسْتَجَابَ اللَّهُ دَعْوَتَكَ وَهَدَى أُمَّ أَبِى هُرَيْرَةَ. فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَقَالَ خَيْرًا – قَالَ – قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يُحَبِّبَنِى أَنَا وَأُمِّى إِلَى عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ وَيُحَبِّبَهُمْ إِلَيْنَا – قَالَ – فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « اللَّهُمَّ حَبِّبْ عُبَيْدَكَ هَذَا – يَعْنِى أَبَا هُرَيْرَةَ وَأُمَّهُ – إِلَى عِبَادِكَ الْمُؤْمِنِينَ وَحَبِّبْ إِلَيْهِمُ الْمُؤْمِنِينَ ». فَمَا خُلِقَ مُؤْمِنٌ يَسْمَعُ بِى وَلاَ يَرَانِى إِلاَّ أَحَبَّنِى.

Dari Abu Kasir, Yazid bin Abdurrahman, Abu Hurairah bercerita kepadaku,

“Dulu aku mendakwahi ibuku agar masuk Islam ketika dia masih musyrik. Suatu hari aku mendakwahinya namun dia malah memperdengarkan kepadaku cacian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tentu merupakan kalimat-kalimat yang tidak kusukai untuk kudengar. Akhirnya aku pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menangis. Ketika telah berada di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam aku berkata,

“Ya Rasulullah, sungguh aku berusaha untuk mendakwahi ibuku agar masuk Islam namun dia masih saja menolak ajakanku. Hari ini kembali beliau aku dakwahi namun dia malah mencaci dirimu. Oleh karena itu berdoalah kepada Allah agar Dia memberikan hidayah kepada ibu-nya Abu Hurairah”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berdoa,

“Ya Allah, berilah hidayah kepada ibu dari Abu Hurairah”.

Kutinggalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan gembira karena Nabi mau mendoakan ibuku. Setelah aku sampai di depan pintu rumahku ternyata pintu dalam kondisi terkunci. Ketika ibuku mendengar langkah kakiku, beliau mengatakan,

“Tetaplah di tempatmu, hai Abu Hurairah”

Aku mendengar suara guyuran air. Ternyata ibuku mandi.

Setelah selesai mandi beliau memakai jubahnya dan segera mengambil kerudungnya lantas membukakan pintu. Setelah pintu terbuka beliau mengatakan,

“Hai Abu Hurairah, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusannya”.

Mendengar hal tersebut aku bergegas kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku menemui beliau dalam keadaan menangis karena begitu gembira. Kukatakan kepada beliau,

“Ya Rasulullah, bergembiralah. Sungguh Allah telah mengabulkan doamu dan telah memberikan hidayah kepada ibu-nya Abu Hurairah”.

Mendengar hal tersebut beliau memuji Allah dan menyanjungnya lalu berkata, “Bagus”. Lantas kukatakan kepada beliau, “Ya Rasulullah, doakanlah aku dan ibuku agar menjadi orang yang dicintai oleh semua orang yang beriman dan menjadikan kami orang yang mencintai semua orang yang beriman”. Beliau pun mengabulkan permintaanku. Beliau berdoa,

“Ya Allah, jadikanlah hamba-Mu ini yaitu Abu Hurairah dan ibunya orang yang dicintai oleh semua hambaMu yang beriman dan jadikanlah mereka berdua orang-orang yang mencintai semua orang yang beriman”.

Karena itu tidak ada seorang pun mukmin yang mendengar tentang diriku ataupun melihat diriku kecuali akan mencintaiku [HR Muslim no 6551].

Setelah membaca kisah diatas, Mari refleksikan dengan keadaan kita sekarang? Sungguh semangat kita dalam mendakwahi orang yang kita cintai itu masih belum ada apa-apanya. Orang tua kita? Kebanyakan sudah menjadi seorang Muslim sejak lahir Walhamdulillah, sedangkan orang tua sahabat nabi ﷺ Abu Hurairah radhiyallahuanhu? Masih dalam keadaan kafir saat itu! Lantas apa yang membuat kalian putus asa hanya karena berbeda pendapat sedikit saja pada suatu permasalahan?

Ada beberapa kisah penulis tentang bagaimana perlakuan orang tua dulu disaat awal-awal “ngaji”. Mulai dari buku catatan-catatan pribadi yang hilang, celana kesayangan yang tiba-tiba hilang, sebuah radio yang tiba-tiba hancur dan pecah (waktu itu terbuat dari kayu), sindirian-sindiran, ancaman-ancaman, dan boikot. Tapi cukupkan diri kita dengan membaca dan mendengar kisah-kisah para salaf terdahulu di banyak kitab-kitab sejarah tentang bagaimana mereka bergaul dan bersabar terhadap kedua orang tua mereka. Zaman ini teknologi semakin tinggi dan hidup semakin mudah. Sarana-sarana menuju kebaikan dengan mudah bisa didapatkan. Oleh karena itu tidak ada kata menyerah untuk menggapai kebaikan bagi kedua orang tua kita.

Beberapa pelajaran penting dari hadits diatas yang bisa kita renungi bersama:

  1. Seharusnya kita senantiasa semangat dalam berdakwah kepada orang tua kita, mengenalkan Islam dan sunnah kepada mereka bahkan itu seharusnya menjadi prioritas utama.
  2. Siapa Abu Hurairah radhiyallahuanhu? Beliau sangat terkenal dengan periwayatan haditsnya yang begitu banyak, betapa besar jasa beliau bagi umat Islam. Dibandingkan kita? Hah, tidak ada apa-apanya! Tapi adakah dari kita yang meneladani beliau dalam semangat berdakwah terhadap orang yang dicintai?
  3. Kita harus lemah lembut dan bersabar atas perilaku orang tua kita. Jika mereka masih belum menerima maka bersabarlah sambil terus berusaha yang terbaik.
  4. Ada proses-proses yang harus kita jalani, ada step-step yang harus senantiasa dilakukan. Semua tidak serba instan begitu saja. Seiring berjalannya waktu insyaaAllah tujuan utama kita akan tercapai. Coba perhatikan kembali kisah Abu Hurairah radhiyallahuanhu diatas.
  5. Berdoa, Berdoa, Berdoa, dan Berdoa. Adakah senjata ampuh selain berdoa kepada Allah ﷻ karena lambat laun Allah ﷻ akan melembutkan dan membukakan hati-hati mereka (kedua orang tua).

(Bersambung)

Link Terkait:

Agar Orang Tuamu Semangat Menuntut Ilmu (Bagian 1)
Agar Orang Tuamu Semangat Menuntut Ilmu (Bagian 2)
Agar Orang Tuamu Semangat Menuntut Ilmu (Bagian 3)

Agar Orang Tuamu Semangat Menuntut Ilmu (Bagian 4)
Agar Orang Tuamu Semangat Menuntut Ilmu (Bagian 6)

Share this:

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *