Mari Bersemangat Mengamalkan Sunnah

Pengertian Sunnah

Segala pujian hanya milik Allah. Shalawat serta salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama dan keluarga beliau. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama. Amma ba’du

Datang sebuah hadist dari l ‘Irbadh bin Sariyah. Di dalamnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ ، وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَ فًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اْلمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِي، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla, dan untuk mendengar serta taat (kepada pimpinan) meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Sesungguhnya, barangsiapa yang berumur panjang di antara kalian (para sahabat), niscaya akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para Khulafa’ur Rasyidun –orang-orang yang mendapat petunjuk- sepeninggalku. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian, jangan sekali-kali mengada-adakan perkara-perkara baru dalam agama, karena sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat”.

[HR Abu Dawud dan Tirmidzi]

Yang dimaksud dengan sunnah disini adalah apa-apa yang ditinggalkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama (untuk diikuti) baik berupa ucapan, perbuatan, maupun pengakuan beliau. Ada beberapa perbedaan pengertian dikalangan para ulama’ tentang makna dari Sunnah, yang mana perbedaan tersebut tidaklah menghasilkan sesuatu yang berlawanan melainkan hanya masalah cakupan pembahasan.

1. Menurut kalangan Ulama’ Ahlul Hadist, yang dimaksud Sunnah adalah apa-apa yang berasal dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama berupa ucapan, perbuatan, pengakuan, sifat khalqiyyah (fisik), dan sifat Khuluqiiyah (akhlak).

2. Menurut kalangan Ulama’ Fiqih, yang dimaksud Sunnah adalah apa-apa yang bila dilakukan maka pelakunya mendapat pahala sedangkan apabila ditinggalkan maka pelakunya tidak mendapat dosa atau pahala. Dengan catatan, meninggalkannya tersebut bukan karena meremehkan.

Dan masih banyak lagi pendapat para Ulama’ tentang sunnah, yang kesemuanya bersimpul pada satu makna, bahwa sunnah adalah agama yang dibawa Nabi Muhammad yaitu Islam, tercakup di dalamnya bagaimana cara seseorang dalam menjalankan agamanya, tentang bagaimana keyakinan yang benar, tentang bagaimana bermuamalah terhadap sesama manusia, tentang bagaimana menjalani hidup sebagai seorang muslim, dan segala hal yang bersumber dari Nabi maka itulah yang disebut sunnah. Adapun amal-amalan baru yang dibuat dalam agama ini, disebut dengan bid’ah. Sebagaimana sebuah hadist dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama :

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم [ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْه ِأَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu hal yang baru dalam perkara kami ini yang tidak ada (perintahnya dari kami) maka tertolak (HR Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim: Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintah kami, maka tertolak.”

Buah Mengamalkan Sunnah

1. Seorang muslim yang berpegang teguh dengan sunnah, maka akan mendekatkan ia kepada kecintaan Allah subhanahu wata’ala. Karena berpegang teguh dengan sunnah artinya mengamalkan apa yang diperintahkan Allah melalui nabi-Nya, dan menjauhi segala sesuatu yang dilarang oleh Allah melalui nabi-Nya. Perbuatan yang demikian menjadikan seorang muslim akan meraih kecintaan Allah, sebagaimana firman Allah :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 

(Ali Imran 31)

2. Amalan-amalan sunnah akan menambal ibadah-ibadah fardhu kita. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat bahwasanya ketika seorang hamba dihisab di yaumil qiyamah tentang shalatnya dan didapati lubang, maka ditanyakan apakah ada sunnah-sunnah seperti shalat rawatib (shalat sunnah yang mengiringi shalat fardhu), maka itulah tambalannya.

3. Menjauhkan diri dari perbuatan bid’ah. Ketika seseorang menyibukkan dirinya dengan sunnah maka akan menjauhkan dirinya dari perbuatan bid’ah. Sebaliknya, jika dia tidak menyibukkan diri dengan sunnah maka bisa saja suatu waktu akan tersibukkan dengan perbuatan bid’ah.

4. Merupakan bentuk memuliakan syari’at Allah. Allah tabaraka wata’ala mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama adalah untuk diikuti bukan untuk dilanggar.

Bentuk Semangat Generasi Salaf dalam Mengamalkan Sunnah

a. Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :

كنت أنا وجار لي من الأنصار في بني أمية بن زيد وهي من عوالي المدينة وكنا نتناوب النزول على رسول الله صلى الله عليه وسلم ينزل يوما وأنزل يوما فإذا نزلت جئته بخبر ذلك اليوم من الوحي وغيره وإذا نزل فعل مثل ذلك فنزل صاحبي الأنصاري يوم نوبته فضرب بابي ضربا شديدا فقال أثم هو ففزعت فخرجت إليه فقال قد حدث أمر عظيم قال فدخلت على حفصة فإذا هي تبكي فقلت طلقكن رسول الله صلى الله عليه وسلم قالت لا أدري ثم دخلت على النبي صلى الله عليه وسلم فقلت وأنا قائم أطلقت نساءك قال لا فقلت الله أكبر

“Dahulu aku dan tetangga ku seorang Anshar dari Bani Umayah bin Zaid –salah satu desa yang ada di Madinah- selalu bergantian mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Hari ini dia dan besoknya aku. Apabila tiba giliran ku, maka aku menyampaikan kepada nya tentang wahyu yang turun pada hari itu ataupun yang lain. Apabila hari itu tiba giliran nya, maka ia melakukan seperti apa yang aku lakukan. Pada suatu hari tibalah giliran sahabat ku itu, kemudian ia kembali dan menggedor pintu rumahku dengan sangat keras dan berkata : “Adakah Umar disini?” Aku pun terkejut dan keluar menemuinya, lalu ia berkata : “Telah terjadi peristiwa yang sangat besar” Lalu aku mendatangi Hafshah ditempatnya dan ternyata ia sedang menangis. Aku bertanya : “Apakah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam telah menceraikan kalian?” Hafshah menjawab : “Saya tidak tahu” Kemudian aku datang menemui Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam dan aku bertanya pada beliau sambil berdiri. “Apakah engkau telah menceraikan isteri – isteri mu?” Beliau menjawab : “Tidak” Mendengar jawaban beliau, aku bertakbir, “Allahu Akbar”

[Diriwayatkan oleh Bukhari dalam shahih nya, hadits no 89]

Itulah Umar radhiyallahu ‘anhu dengan semangat beliau untuk mendengar petunjuk dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama, ia rela bergantian setiap hari dengan tetangganya untuk mendapat faidah. Maka jika umar yang dikabarkan Nabi dengan surga, bagaimana pula kita yang tidak ? Bukankah harus lebih bersemangat di dalam menjalani ibadah demi ibadah sehingga menggapai keridhaan Allah ? Semoga Allah memudahkan kita untuk terus mengamalkan sunnah. Jangan sampai kita termasuk golongan yang enggan memasuki surga, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallama bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Seluruh umatku akan masuk jannah, kecuali yang enggan.” Maka dikatakan: “Wahai Rasulullah, siapa yang enggan?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang menaatiku maka dia pasti masuk jannah, sedangkan barangsiapa yang mendurhakaiku maka sungguh dia telah enggan (masuk jannah).”

 (Bukhari)

b. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu berkata :

“Tidaklah aku menulis sebuah hadist melainkan aku telah berusaha mengamalkannya. Suatu ketika datang kepadaku, hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama tentang berbekam. Maka aku memberi seseorang satu dinar untuk kemudian aku berbekam”

(Tartib Ar Rawy 2/144)

c. Abdurrahman bin Mahdi berkata, Aku mendengar Sufyan berkata :

“Tidaklah datang satu hadist dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama, kecuali aku akan mengamalkannya, walau hanya sekali”

(Siir Alam An Nubala)

Sunnah dalam Islam ini akan mati dengan tersebarnya kebodohan, dan tidak adanya manusia yang bersemangat mengamalkannya. Diantara tanda matinya sunnah adalah mulai tersebar meratanya bid’ah dimana-mana. Sebagian besar mulai tidak peduli, walau dengan sunnah yang terlihat ringan sekalipun. Tersibukkan dengan perbuatan-perbuatan yang justru tidak dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama. Seperti, kita lihat masjid jarang sekali terlihat ramai oleh Jama’ah kaum Muslimin kecuali di waktu-waktu tertentu, padahal ini merupakan bentuk sunnah yang diwajibkan oleh Nabi kepada seorang muslim. Akan tetapi, justru kebanyakan ramai di tempat-tempat selamatan atau tempat-tempat petik laut yang justru menjatuhkan mereka kepada kebid’ahan dan kesyirikan.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata :

“Tidaklah datang kepada manusia suatu zaman dimana saat itu tersebarlah bid’ah, dan mereka mematikan sunnah. Ketika satu sunnah dimatikan maka muncullah bid’ah”

(Sebagaimana disebutkan oleh Al Haitsami dalam “Majmu’ Az Zawaaid”, diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam “Al Kabiir”)

Maka marilah kita bersemangat, sebagaimana generasi terdahulu begitu bersemangat mengamalkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama. Tidak usah yang terlalu berat dulu, amalkan yang sekiranya diri kita mampu untuk berusaha terus istiqamah di atasnya.

(Disarikan dari kitab Sunan Mahjurah karya Syaikh Muhammad Sa’id Ruslan hafizhahullahu dengan beberapa tambahan faidah dari website http://www.ruqya.net/forum/archive/index.php/t-36036.html )

Share this:

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *