Analogi Susu Murni dan Keikhlashan Secara Etimologi

Berbicara tentang ikhlash, maka penulis lah yang sebenarnya sangat membutuhkan hal tersebut. Namun bukanlah menjadi syarat dalam memberi nasihat atau saling nasihat-menasihati, yaitu sang pemberi nasihat harus benar-benar mampu 100% melakukan isi nasihat tersebut.

“Jika syarat pemberi nasihat adalah tidak berdosa, maka niscaya tidak ada orang yang capable untuk memberi nasihat sama sekali”

Pembahasan ikhlash barangkali merupakan pembahasan yang membosankan. Hampir di setiap waktu kita selalu mendengarnya berulang-ulang. Sebagian orang mungkin merasa hal-hal seperti ini menjadi tidak penting lagi karena sudah merasa menguasai. Padahal realitanya, mereka yang sekaliber ‘ulama pun tetap tidak pernah berhenti membahasnya. Menunjukkan bahwa meskipun perkara ikhlash itu diulang tetapi urgensinya tidak pernah berkurang. Ternyata ikhlas memang penting, bahkan sangat-sangat penting!

Buktinya?

Imam Bukhari sampai-sampai mencantumkan hadits khalifah Umar bin Khattab tentang permasalahan niat di bagian pertama kitabnya. Begitu juga dengan Imam An-Nawawi dalam Riyadush shalihin dan Arba’in Nawawi. Tidak cuma mereka berdua, ternyata masih banyak ulama lainnya yang mencantumkannya sebagai pembuka kitabnya. Sampai ada yang mengatakan kalau ikhlash itu sepertiga ilmu dan masuk dalam 70 bab cabang fikih! Tidak lain tidak bukan, hal ini menunjukkan akan pentingnya masalah keikhlasan.

Keikhlashan adalah sebuah materi yang menjadi inti sari dan poros agama Islam. Tidak ada orang yang takut terhadap ke-tidakikhlash-an kecuali orang tersebut adalah orang beriman, sedangkan sikap merasa aman bahwa dirinya (mengklaim) sudah ikhlash merupakan perbuatan orang-orang yang munafiq.

“Barang siapa yang menyangka dirinya sudah ikhlash maka sejatinya dia telah kurang ikhlasnya, dan barang siapa yang merasa belum ikhlash maka dialah orang yang akan terus memperbaiki diri dan mendapatkan keikhlasan tersebut.”

Lalu, bagaimana kita memahami tentang perkara ikhlash jika kita sendiri tidak paham tentang definisi/pengertian ikhlash itu sendiri?

Ikhlash secara bahasa (etimologi) adalah memurnikan sesuatu, mengosongkannya dari segala sesuatu yang mengotori atau menodainya.

Adakah dalil yang mendasari ini? ada, yaitu:

Surat An-Nahl (16) ayat 66

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang murni diantara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.

خَالِصًا memiliki kata dasar yang sama dengan Ikhlash yang memiliki arti murni.

almani

source: http://www.almaany.com/

Al-Quran diturunkan dengan bahasa arab, bahasa yang sangat-sangat unik nan menakjubkan. Dan tahukah kamu bahwasannya ayat di atas tersebut adalah ayat yang sangat indah. Dimanakah letak keindahannya?

Ayat tersebut memberikan isyarat tersendiri untuk kita, menjelaskan kepada kita tentang ikhlash dengan perumpaan yang menakjubkan. Subhaanallah! Memang, tidaklah Allah meletakkan sebuah kata pun atau sebuah permisalan di dalam Al Qur’an melainkan pasti ada makna indah atau pelajaran yang tersirat di dalamnya, tidak ada yang sia-sia! 

Setidak-tidaknya ada dua hal yang menarik yang jika kita cermati seharusnya menambah keimanan kita bahwa Al Qur’an memang benar wahyu dari sang Pencipta yang Maha Mengetahui :

1. Ayat ini secara tidak langsung menjelaskan tentang tipisnya perbedaan atau dekatnya jarak antara ikhlash dan noda-noda pengotornya yang bisa merusak keikhlashan kita (riyaa’, sum-’ah, ‘ujub). Yaitu antara susu (keikhlasan) dan darah serta kotoran (riyaa’, sum-‘ah, ‘ujub). Menurut ilmu kedokteran, ternyata ditemukan fakta yang menarik yang menunjukkan kebenaran ayat tersebut, yaitu bahwasannya saluran susu itu benar terletak dekat dengan darah dan kotoran, sangat-sangat dekat. MasyaaAllah.

2. Sebanyak apapun amal ibadah kita, jika kita tidak meng-ikhlash-kan diri kepada Allah azza wa jalla maka tidak ada gunanya sama sekali. Sama halnya dengan ilustrasi nyata diatas. Coba bayangkan jika saluran susu tersebut contaminated oleh darah dan kotoran yang mengelilinginya, niscaya air susu tersebut tidak akan berguna sama sekali dan tidak ada orang yang mau meminumnya. Seperti apapun kandungan dan kebaikan dari susu, tapi jika sudah rusak sedikit saja. Selesai sudah…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِه

“Barangsiapa yang memperdengarkan maka Allah akan memperdengarkan tentangnya, dan barangsiapa yang memperlihatkan (riyaa’) maka Allah akan memperlihatkan tentang dia”

(HR Al-Bukhari no 6499)

Ingatkah kamu dengan pepatah ini:
Karena nila setitik rusak susu sebelanga?

Atau pernahkan kamu merasa kesal saat berurusan dengan laptop, HP, atau mesin ATM mu? terkadang hanya gara-gara salah satu huruf saja di susunan password yang kamu ketik, maka kamu harus mengulangi nya dari awal? Padahal kesalahannya bisa jadi hanya karena Caps lock On yang tidak sengaja atau hal-hal sepele lainnya.

password

Ya begitulah niat di hati kita, begitu lah Islam mengajarkan kita bahwa Allah azza wa jalla tidak boleh disekutukan sama sekali oleh sesuatu apapun juga dalam peribadatan kepada-Nya. Salah satu syarat diterimanya amalan-amalan kita adalah Ikhlash kepada Allah dan tentunya amalan-amalan tersebut harus memiliki contoh dari Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wassalam.

Lalu, masih ingatkah kamu dengan 3 orang yang berkesempatan mencicipi adzab neraka pertama kali?

Wihh, seram sekali bukan? Takut? Kira-kira perbuatan keji macam apa sih atau kemaksiatan model apa sih yang membuat 3 kandidat ini diadzab api neraka “pertama kali”? for the first time…

Koruptorkah?, pemerkosakah?, pembunuh dengan cari memutilasi korbannya kah?, penipu uang triliyunan rupiah kah?, atau pezina yang menzinai ibu nya sendiri?

Penasaran? Mari simak hadits dibawah ini:

Abu hurairah -radhiallahu anhu- (perawi hadits ini) sebelum meriwayatkan hadits ini, beliau sampai pingsan 3x karena begitu takutnya dengan ancaman hadits tersebut, khawatir jika dia tertimpa ancamannya…

Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata: Aku mendengar Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ، رَجُلٌ اسْتَشْهَدَ فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَى اسْتَشْهَدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، لَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيْءٌ، فَقَدْ قِيْلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ، وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا فَعَلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، لَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيْلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَّادٌ، فَقَدْ قِيْلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ

“Sesungguhnya manusia paling pertama yang akan dihisab urusannya pada hari kiamat adalah: Seorang lelaki yang mati syahid, lalu dia didatangkan lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmatNya (yang telah diberikan kepadanya-pen) maka diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat dengan nikat-nikmat tersebut?” dia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu berperang agar kamu dikatakan pemberani, dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka. Dan (orang kedua adalah) seseorang yang mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan dia membaca (menghafal) Al-Qur`an. Maka dia didatangkan lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmatNya (yang telah diberikan kepadanya -pen) maka diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” dia menjawab, “Aku mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur`an karena-Mu.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu menuntut ilmu agar kamu dikatakan seorang alim dan kamu membaca Al-Qur`an agar dikatakan, “Dia adalah qari`,” dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka. Dan (yang ketiga adalah) seseorang yang diberikan keluasan (harta) oleh Allah dan Dia memberikan kepadanya semua jenis harta. Maka dia didatangkan lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmatNya (yang telah diberikan kepadanya-pen) maka diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” dia menjawab, “Aku tidak menyisakan satu jalanpun yang Engkau senang kalau seseorang berinfak di situ kecuali aku berinfak di situ untuk-Mu.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu melakukan itu agar dikatakan, “Dia adalah orang yang dermawan,” dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka.” (HR. Muslim mo. 1905)

  1. Seorang lelaki yang mati syahid
  2. Seseorang yang mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan dia membaca (menghafal) Al-Qur`an
  3. Seseorang yang diberikan keluasan (harta) oleh Allah dan Dia memberikan kepadanya semua jenis harta lalu meng-infaq-kannya

3 nominasi  tersebut adalah orang-orang yang pertama kali masuk neraka, kok bisa?

Kira-kira apa yang membuat semua ini bisa terjadi? You can see the correlation?

Ya, tentu saja hal ini sangatlah besar dan menakutkan. Mereka adalah orang-orang yang ketika di dunia bisa jadi dengan hartanya ada seseorang yang rela berinfaq dan berderma. Bisa jadi dengan ilmunya. Bisa jadi pula dengan kekuatan fisik dst….

Lantas apa balasan mereka di akhir nanti? What’s wrong wih them?

Apa lagi jika bukan karena perkara besar dalam agama ini, yaitu: Ikhlash…

Semoga Allah jadikan hati-hati kita senantiasa ikhlash kepada Allah dalam segala ibadah yang kita lakukan…

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Bandung, Wednesday, 7 Oct 2015
Deni Setiawan
-saudaramu-

Murajaah: Ustadz Abu Salimah

Share this:

Related Posts

2 comments

  1. abdullah

    Assalamu’alaikum, afwan mau tanya kalau 3 golongan yang pertama kali masuk neraka itu apakah kekal di neraka atau tidak?

    terimakasih sebelumnya atas jawabannya, jazzakallahukhairan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *