Dirasah Hadits Nomor 4 Shahih Bukhari

Muqoddimah

Bismillah. Segala puji bagi Allah, Rabb Semesta ‘Alam. Kami memujiNya, kami memohon pertolongan dan meminta ampun hanya padaNya. Sesungguhnya tiada Illah yang hak disembah kecuali Allah, dan sesungguhnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah hamba dan rasulNya.

Sesungguhnya hadits merupakan sumber kedua hukum islam setelah Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an yang mulia Allah berfirman

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah” (Al-Hasyr 7)

Dalam tafsir disebutkan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah ikutilah/ittiba’lah pada Rasul, dan apa yang diperintahkan Rasul maka itupun perintah Allah, begitu juga larangannya[1]

Kemudian dalam hadits yang shahih disebutkan

“maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur raasyidin sepeninggalku” (H.R. Tirmidzi dan Abu dawud. Berkata Imam Tirmidzi : Hadits hasan Shahih)

Dan hadits-hadits lain yang semakna dengan yang telah tertulis. Oleh sebab itu penting bagi kita untuk mempelajari hadits-hadits Nabi yang telah dibukukan oleh para ulama’. Salah satu kitab hadits yang paling utama dan menjadi kitab tershahih kedua setelah Al-Qur’an adalah kitab Shahih Bukhari karya Imam Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari.

Dalam tulisan ini, kami merangkumnya dari kajian shahih Bukhari di masjid As-Shiddiq, Kebon Gedang setiap sabtu 2 pekan sekali yang dibawakan oleh guru kami al-Ustadz Resa Gunarsa hafidzahullah. Rangkuman yang kami catat ketika kajian kami bandingkan dengan kitab asli yang dipakai untuk membahas shahih Bukhari yaitu Fathul Baariy karya Al-Imam Al-Haafidz Ahmad bin ‘Aliy bin Hajar Al-Asqalaniy atau yang lebih tenar dengan nama Imam Ibnu Hajar rahimahullah. Selain itu kami tambahkan juga keterangan-keterangan singkat mengenai para perawi dari kitab beliau juga yaitu Taqriibut-Tahdziib untuk perawi selain shahabat dan dengan kitab Al-Asadul Ghobah fii ma’rifatis shohaabah karya ‘Izzuddin ibnu Atsir Abul hasan ‘Aliy bin Muhammad Al-Jazariy atau yang lebih dikenal sebagai Ibnul Atsir. Selain itu kami juga memakai software-software bantuan lain semisal maktabah syamilah dan juga Microsoft Visio untuk membuat bagannya.

Sejatinya kitab ini merupakan kitab yang cukup berat untuk dikaji, dan seharusnya pembaca minimal telah memahami istilah-istilah di ilmu musthalah hadits agar tidak bingung ketika membacanya. Maka semoga beratnya kita ketika melihat kitab ini membuat kita semangat dalam belajar agar kitab ini tidak lagi terasa berat. Dan semoga lelahnya kita itu akan membuat pahala yang kita dapat menjadi berlipat. Dan semoga tulisan ini bisa bermanfaat sebagai bahan murojaah bagi yang telah datang kajian tersebut atau sebagai tambahan ilmu bagi yang tidak hadir.

Hadits keempat

قَالَ ابْنُ شِهَابٍ: وَأَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الأَنْصَارِيَّ، قَالَ: وَهُوَ يُحَدِّثُ عَنْ فَتْرَةِ الوَحْيِ فَقَالَ فِي حَدِيثِهِ: ” بَيْنَا أَنَا أَمْشِي إِذْ سَمِعْتُ صَوْتًا مِنَ السَّمَاءِ، فَرَفَعْتُ بَصَرِي، فَإِذَا المَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي بِحِرَاءٍ جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ، فَرُعِبْتُ مِنْهُ، فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ: زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي ” فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا المُدَّثِّرُ. قُمْ فَأَنْذِرْ} [المدثر: 2] إِلَى -[8]- قَوْلِهِ {وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ} [المدثر: 5]. فَحَمِيَ الوَحْيُ

                Arti : Berkata Ibnu Syihab, telah mengabarkan pada kami Abu salamah bin Abdurrahman bahwa Jabir bin Abdullah al-Anshariy bercerita tentang masa fatrahnya wahyu, sebagaimana Rasulullah menceritakan, Ketika sedang berjalan aku mendengar suara dari langit, aku memandang ke arahnya dan ternyata Malaikat yang pernah datang kepadaku di gua Hiro, duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku pun ketakutan dan pulang, dan berkata: “Selimuti aku. Selimuti aku”. Maka Allah Ta’ala menurunkan wahyu: (Wahai orang yang berselimut) sampai firman Allah (dan berhala-berhala tinggalkanlah). Sejak saat itu wahyu terus turun berkesinambungan.

Studi ringkas riwayat hadits :

Jika kita membaca hadits ini pada kitab aslinya, kita akan mengira hadits ini termasuk hadits mu’allaq. Konsekuensi dari anggapan kita artinya hadits ini bukan hadits yang termasuk dalam shahih Bukhari, karena yang dimaksudkan hadits Shahih Bukhari adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari secara musnad. Akan tetapi sebenarnya hadits ini bukanlah merupakan hadits yang mu’allaq, karena sebenarnya sanad hadits ini merupakan sambungan dari sanad hadits sebelumnya. Maka dari itu sebagian pentahqiq memasukkan hadits ini ke dalam hadits nomor 3. Akan tetapi menurut riwayat di Fathul Bari dan di kitab yang dijadikan pegangan oleh Ustadz Resa hadits ini beda dengan hadits nomor 3. Kami pun telah melengkapi sanadnya sebagaimana terlihat di tabel.

Penjelasan status rawi

–          Yahya bin Abdullah bin Bukair. Tsiqoh periwayatannya dari al-Laits bin Sa’ad. Termasuk pembesar thabaqah[2] kesepuluh. Meninggal pada tahun 231 H.[3]

–          Al-Laits bin Sa’ad bin Abdurrahman. Tsiqoh. Faqih dan Imam yang masyhur. Dari thabaqah ketujuh. Meninggal tahun 175 H.[4]

–          ‘Uqail bin Khalid bin ‘Uqail al-Ailiy. Termasuk rawi yang paling terpercaya dari Ibnu Syihab Az-Zuhriy. Tsiqoh Tsabit. Dari thabaqah keenam. Meninggal tahun 144 H.[5]

–          Ibnu Syihab Az-Zuhriy, Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Abdullah bin Syihab bin Abdullah bin Al-Haarits bin Zuhroh bin Kullab. Faqih, Haafidz. Dari thabaqah keempat. Meninggal tahun 125 H. [6]

–          Abu Salamah bin Abdurrahman bin ‘Auf. Tsiqoh. Dari thabaqah ketiga. Meninggal pada tahun 94 H.[7]

–          Jabir bin Abdullah Al-Anshariy. Shahabat. Termasuk seorang yang mengikuti peristiwa Bai’atur Ridhwan. Wafat tahun 74 H.[8]

Studi dirayah hadits :

Penjelasan ringkas :

Hadits ini bercerita tentang turunnya surat Al-Muddatstsir setelah masa fatrah atau berhentinya wahyu. Sebagaimana telah diketahui bahwa wahyu pertama yang turun adalah surat al-‘Alaq 1-5. Kemudian wahyu tidak turun lagi hingga peristiwa ini. Masa berhentinya wahyu inilah yang disebut masa fatrah. Masa fatrah berlangsung selama 3 tahun. Setelah itu wahyu tidak pernah terputus selama 20 tahun hingga Rasulullah wafat[9]

Tafsir Surat al –Muddatstsir

–           يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِر: maknanya adalah “peringatkanlah orang-orang yang tidak beriman kepadamu akan adzab”

–           وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ: maknanya adalah “Agungkanlah”

–           وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ: maknanya adalah “bersihkanlah pakaianmu dari najis” atau ada juga yang menafsirkan “Bersihkanlah jiwamu dengan cara menjauhi sesuatu yang dapat mengotorinya[10]

–          وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ : maknanya adalah “jauhilah patung-patung/sesembahan lain selain Allah”. Secara bahasa arti kata الرجز adalah adzab. Patung-patung/sesembahan dinamai seperti itu karena patung-patung itu menyebabkan seseorang diadzab.

Wallahu A’lam

 

Jurang, 30 Maret 2014

Referensi :

–          Kajian Ustadz Resa di masjid as-shiddiq, kebon gedang, Bandung

–          Fathul Baari, Ahmad bin ‘Aliy bin Hajar Al-Asqalaniy, Daarul Hadits, Kairo, th. 1424H/2004 M

–          Taqriibut-Tahdziib, Ahmad bin ‘Aliy bin Hajar Al-Asqalaniy, Daarul Hadits, Kairo, th. 1430H/2009 M

–          Asadul Ghobah fii Ma’rifati Shahabah. ‘Izzuddin ibnu Atsir Abul hasan ‘Aliy bin Muhammad Al-Jazariy, Daarul Kutub Al-‘ilmiyyah, Beirut, Libanon.



[1] Taisiir Kariimir Rahman, 1003

[3] Taqriibut Tahdziib, 706

[4] Taqriibut Tahdziib, 545

[5] Taqriibut Tahdziib, 454

[6] Taqriibut Tahdziib, 598

[7] Taqriibut Tahdziib, 768

[8] Asadul Ghobah fii ma’rifatis shahaabah, 492.

[9] Fathul Bari, 1/34

[10] Hasad, dengki, dll dari jenis penyakit hati lainnya

Share this:

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *