Serial Pokok-Pokok Keimanan : Urgensi Belajar Tauhid dan Aqidah

Alhamdulillah, sungguh sebuah kenikmatan dari Allah dengan semakin mudahnya kita di zaman sekarang ini mempelajari Islam. Dengan tetap mengharuskan kepedulian akan sumber pengambilan dalil, kita telah dipermudah ditemuinya beragam kitab karya para Ulama’ yang dicetak dan tersebar di seluruh penjuru dunia. Dan bentuk kemudahan itu, tanpa sebuah pertemuan kita dimudahkan Allah untuk mencoba membahas apa yang ulama’ tintakan. Tanpa mengurangi kemuliaan sebuah majelis ilmu, hendaknya para penuntut ilmu tetap rajin berangkat ke majelis ilmu dan rajin mengulang apa yang ia dapat di majelis. Bentuk mengulang tersebut, bisa jadi seperti kita ini. InsyaAllah akan disampaikan beberapa serial pembahasan sebuah kitab yang sangat bermanfaat

Ushul Al Imani fii dhau’i al kitabi wa as-sunnati

Yang merupakan sekumpulan ringkasan dari beberapa tulisan ulama’-ulama’ : Dr Shalih bin Sa’d As Suhaimy, Dr Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr, Dr Ibrahim ‘Amir Ar Ruhaily, dan lain-lain. Semoga Allah membalas kebaikan mereka.

Muqaddimah

Segala pujian hanya milik Allah, yang menyempurnakan agama Islam untuk kita, dan Allah genapkan seluruh nikmat, Allah jadikan umat islam sebagai sebaik-baik umat, mengutus kepada kita seorang Rasul dari golongan kita dengan membawa ayat (kalamullah) serta mengajarkannya kepada kita dengan hikmah. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada seseorang yang Allah utus kepada segenap alam dengan rahmat-Nya, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama.

Amma Ba’du : Sesungguhnya hikmah diciptakannya jin dan manusia adalah agar keduanya menyembah hanya kepada Allah, sebagaimana Allah firmankan dalam Al-Qur’an :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku (Allah) ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”

(Adz Dzariyat:56)

Oleh karena perintah itu datangnya dari Allah, maka menjadi sebuah ketetapan, bahwa Ibadah, Aqidah yang shahih, adalah yang di ambil darimana perintah itu berasal, sumber yang diberkahi Allah yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya. Tauhid dan Aqidah yang shahih tersebut merupakan  puncak dari ibadah kepada Allah. Keduanya merupakan pondasi dasar dari bangunan Islam  ini. Tanpa keduanya, bangunan (Islam) yang ada adalah bangunan yang rusak, roboh, dan cacat. Allah berfirman :

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ´Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” 

 (Al Anbiya:22)

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. 

(At Thalaq:12)

Karena tidak mungkin bagi akal manusia untuk memahami atau mengetahui perincian tentang hal itu, maka Allah utus para Rasul dan Allah turunkan kitab-kitab, untuk memberikan penjelasan, keterangan, kepada manusia. Sehingga mereka bisa beribadah diatas ilmu, pemahaman, dan dasar yang jelas, serta pijakan yang kuat. Maka secara turut menurut utusan Allah menyampaikannya kepada manusia, dan secara bergantian menerangkan tentang islam. Allah subhanahu wata’ala berfirman :

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا ۚ وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌ

“Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” 

(Fathir:24)

ثُمَّ أَرْسَلْنا رُسُلَنا تَتْرا كُلَّما جاءَ أُمَّةً رَسُولُها كَذَّبُوهُ فَأَتْبَعْنا بَعْضَهُمْ بَعْضاً وَ جَعَلْناهُمْ أَحاديثَ فَبُعْداً لِقَوْمٍ لا يُؤْمِنُونَ

 “Kemudian itu Kami utuslah Pesuruh-pesuruh Kami, satu demi satu, silih berganti. Setiap ummat didatangi oleh RasuINya, mereka dustakan juga Rasul itu. Lalu Kami persilih-gantikan pulalah azab sebagian mereka dari yang sebagian. Dan Kami jadikan mereka menjadi buah mulut orang. Maka kebinasaanlah bagi kaum yang tidak mau percaya.”

(Al Mu’minuun:44)

Arti dari berturut-turut adalah Allah perintahkan para Rasul itu dengan bergantian dari saru utusan ke yang lain sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama. Beliau menyampaikan risalah, menunaikan amanah Allah, menasehati ummat, berjihad di jalan Allah,  berdakwah mengajak manusia kepada Allah dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, menegakkan syariat, Allah uji beliau dengan cobaan yang dahsyat dan beliau bersabar sebagaimana sabarnya Ulul ‘Azmi, tidaklah beliau berhenti menyeru mengajak manusia kepada Allah kecuali sampai Allah tampakkan agama ini, dan Allah sempurnakan agama ini, dan manusia secara berbondong-bondong menerima dakwah beliau, (itu beliau lakukan) sampai beliau wafat. Allah subhanahu wata’ala berfirman :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama menjelaskan bahwa Agama islam ini menyangkut keseluruhan,perkara ushul (pokok) dan furu’ (cabang). Tidak boleh dibedakan keduanya, atau timpang salah satu. Imam Malik bin Anas rahimahullahu berkata :

“Sungguh tidak masuk akal menyangka Nabi mengajarkan umatnya tentang bagaimana cara ber-Istinja’ lantas beliau tidak mengajarkan Tauhid yang benar”

Nabi Muhammad adalah seorang penyeru manusia untuk bertauhid kepada Allah serta memurnikan agama ini untuk tetap mentauhidkan Allah. Memberangus kesyirikan entah kecil maupun besar. (Apa yang beliau lakukan tersebut) Sebagaimana apa yang dilakukan oleh Para Rasul sebelum beliau. Jadi bisa disimpulkan, para Rasul seluruhnya merupakan orang-orang yang menyeru dakwah yang sama dengan yang beliau emban, para rasul ini saling ber”gotong-royong” dalam mendakwahkan tauhid

(Al Maidah:3)

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”

(An Nahl:36)

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.”

(Al Anbiya’:25)

وَاسْأَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُسُلِنَا أَجَعَلْنَا مِنْ دُونِ الرَّحْمَٰنِ آلِهَةً يُعْبَدُونَ

“Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: “Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?” 

(Az Zukhruf:45)

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).”

(Asy Syura:13)

Sebuah hadist dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang menyatakan bahwa dakwah para Rasul adalah sama, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda :

“Para Nabi itu saudara kandung, Ibu-ibu mereka berbeda akan tetapi agama mereka satu”

(Bukhari “Ahaditsul Anbiya” 3259, Muslim “Al Fadhail” 2365, Abu Dawud “As Sunnah” 4675, Ahmad 2/406)

Agama yang mereka dakwahkan itu satu yaitu Islam, aqidah mereka satu, akan tetapi syariat yang mereka emban itu berbeda satu sama lain. Sebagaimana firman Allah :

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,”

(Al Maidah:48)

Oleh karena itu,tauhid atau aqidah yang shahih ini hendaknya tertancap di hati setiap orang islam dan telah jelas bagi setiap orang yang beriman untuk mengimaninya tanpa memberikan ruang bagi akal untuk berpendapat di atas dalil. Yang wajib bagi setiap muslim baik di belahan timur maupun barat adalah berkeyakinan sebagaimana para Nabi dan Rasul, mengimani apa yang mereka imani, dan mengajak manusia kepadanya, dengan tanpa ragu-ragu ataupun menentang.

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”.”

(Al Baqarah:285)

 Maka beginilah hendaknya keadaan seorang mukmin, inilah jalan mereka, Beriman, Membenarkan, menerima. Jika sudah demikian, maka insyaAllah dia akan selamat, muncul rasa iman dan aman dalam hatinya, membersihkan jiwanya, memberikan ketenangan pada hatinya, menjauhkannya dari kesesatan yang di buat-buat oleh sebagian manusia karena dangkalnya aqidah mereka dan sesatnya pemahaman mereka.

Aqidah yang shahih, dengan pokok-pokoknya yang kuat dan dasar-dasarnya yang selamat dari kesesatan, hal ini merupakan satu sebab keselamatan seorang manusia baik di dunia maupun di akhirat. Dengan catatan penting, bahwa (agar seseorang bisa memahami aqidah yang shahih) perlu penjelasan yang rinci dari ahli ilmu, dengan disertai dalil yang shahih, jelas hujjah yang diberikan, tidak terlepas dari fitrah yang selamat, dapat dicerna akal yang sehat, dan diterima hati yang jernih. Beberapa aqidah pokok yang harus dipahami seorang muslim akan dibahas satu per satu dalam kitab ini.

Oleh karena itu, telah menjadi sebuah kewajiban bagi seluruh kaum muslimin untuk memahami aqidah yang shahih ini, yang menjadi sebab selamatnya mereka dari kesesatan. Kita berharap kepada Allah subhanahu wata’ala semoga risalah singkat ini (kitab) dapat bermanfaat bagi kaum muslimin pada umumnya.

Share this:

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *