Iman Kepada Takdir [Part 1]

Bismillahirrahmanirrahim

Semburat oranye yang terlukis di langit sore oleh cahaya mentari selalu membawa cerita tentang semua yang terjadi sejak pagi, mulai dari ketika manusia terbangun dari tidur-tidurnya, menghadap Allah Ta’ala dalam shalatnya, bergegas menuju hidup penuh perjuangan, menghadapi berbagai realita kehidupan, hingga sore hari pulang membawa senyuman atau mungkin kerutan pada wajah-wajah kelelahan. Saat sore datang, semua telah terlewat menjadi kenangan, menjadi cerita menyenangkan, atau mungkin menegangkan, bahkan penyesalan.

Sahabat, berbicara tentang kejadian-kejadian dalam kehidupan, semua yang terlukis, semua yang terekam, mulai dari yang membuat manusia tersenyum lebar hingga yang menggores hati dan membuat manusia menangis panjang, terkadang membuat kita berpikir, mengapa semua ini terjadi? Apakah semua ini terjadi begitu saja secara alami tanpa ada yang mengendalikan atau menghendaki? Jawabannya tidak. Semua yang terjadi, apapun itu, ada yang menghendakinya terjadi, dan yang menghendaki semua itu adalah Allah, Dzat yang Maha Mampu dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Berbicara tentang takdir, ada sesuatu yang seharusnya diketahui dan diamalkan oleh seorang muslim. Sesuatu tersebut adalah iman kepada takdir. Kita tahu bahwa takdir adalah salah satu hal harus kita imani, bahwa beriman kepada takdir adalah salah satu rukun iman, benar? Sebagian di antara kita pernah mendengar tentang seorang laki-laki yang datang kepada nabi ﷺ kemudian bertanya mengenai islam, iman, dan ihsan. Kemudian nabi ﷺ menjawabnya dan kemudian laki-laki itu membenarkan ucapan nabi ﷺ. Ternyata laki-laki itu adalah malaikat Jibril ‘alaihissalam yang Allah Ta’ala utus kepada nabi ﷺ. Pernah mendengarnya?

Sekarang mari kita ulas kembali perkataan nabi ﷺ ketika Jibril bertanya mengenai iman. Sabda nabi ﷺ,

“Iman adalah Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.“ (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits yang lain, dari Zaid bin Tsabit, Rasulullah ﷺ juga bersabda,

“Seandainya Allah menyiksa penduduk langit dan penduduk bumi, tentu Dia menyiksa mereka tanpa berbuat dzalim kepada mereka. Jika Dia merahmati mereka maka rahmatNya adalah lebih baik bagi mereka daripada amal mereka. Seandainya engkau memiliki emas segunung Uhud atau seperti gunung Uhud yang engkau belanjakan di jalan Allah, maka dia tidak akan menerimanya darimu sebelum engkau beriman kepada takdir dan engkau mengetahui bahwa apa yang ditakdirkan menimpamu tidak akan meleset darimu dan apa yang ditakdirkan bukan bagianmu tidak akan mengenaimu, dan sesungguhnya jika engkau mati atas (aqidah) selain ini maka engkau masuk neraka” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Abu Daud, sanad sahih)

Jelas sekali bagi kita, bahwa beriman kepada takdir wajib hukumnya. Dan termasuk dari rukun iman. Artinya iman terhadap takdir fundamental sekali dalam agama. Maka dari itu jangan sampai kita malas untuk mempelajarinya, mengimaninya dan mengamalkannya. Percayalah, itu akan berguna bagi kehidupan dunia dan akhirat kita.

Terkadang sebagian orang tidak percaya “benarkah takdir adalah sesuatu yang mesti kita imani?” Bahkan mereka meremehkan keimanan itu, seolah-olah keimanan itu tidak memberikan keuntungan apa-apa. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Tahukah orang-orang yang meremehkan itu, bahwa modal utama seorang muslim adalah imannya. Apa lagi yang akan dia bawa saat kelak menghadap Allah Ta’ala jika bukan iman? Percayalah, di hari kiamat, ketika semua manusia menunduk ketakutan, hanya memikirkan sendiri dan keselamatan, maka keimananlah yang paling kita butuhkan.

Maka dari itu, bersungguh-sungguhlah untuk mempelajari dan mengamalkan keimanan. Karena itulah jaminan keselamatan pada hari dimana rambut seorang anak menjadi beruban.

 

Pengertian Iman kepada Takdir

Sebelum membahas tentang iman kepada takdir, hendaknya kita harus tahu definisi takdir. Karena tidak mungkin kita beriman tetapi tidak tau apa yang sedang diimani, mau beriman tapi masih bingung apa itu takdir atau qadar.

Qadar adalah ketentuan Allah Ta’ala atas semua makhlukNya. Beriman kepada takdir berarti kita mengimani ketentuan yang telah ditetapkan Allah Ta’ala untuk seluruh makhluk sesuai ilmuNya dan menurut hikmah kebijaksananNya. Seorang raja di dunia pasti memiliki hukum dan ketentuannya sendiri bukan? Begitupun dengan Allah Ta’ala, bahkan Allah Ta’ala bukan hanya raja semesta alam, tetapi pencipta sekaligus pemilik. Wajar saja kalau Allah Ta’ala memiliki ketentuan terhadap sesuatu yang diciptaNya. Nah, tetapi, berbeda dengan raja yang memiliki keterbatasan akan pengetahuan rakyatnya dan pengetahuan akan masa depan, ilmu Allah Maha Sempurna, Dia mengetahui hal-hal di masa depan dengan pengetahuan yang sempurna, Allah Ta’ala Mengetahui kebaikan dan keburukan yang akan terjadi di masa depan. Maka dari itu, takdir Allah Ta’ala tidak akan pernah salah, keputusan Allah Ta’ala tidak akan pernah mendzalimi hambaNya. Ingat ya, tidak pernah dzalim, bahkan Allah Ta’ala telah mengaharamkan kedzaliman itu pada diriNya sebagaimana Allah Ta’ala mengharamkan makhlukNya dari berbuat dzalim.

Dengan keMahasempurnaan ilmuNya itu pula Allah mampu menentukan qadar 50 ribu tahun sebelum manusia diciptakan.

Dari Abdullah bin Amr, Rasulullah ﷺ bersabda,

“Allah telah menulis takdir-takdir semua makhuk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan semua lapisan langit dan bumi” (HR. Muslim)

Bersambung, insyaaAllah.

Share this:

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *