Iman Kepada Takdir [Part 2]

Tingkatan Beriman kepada Takdir

Pada bagian sebelumnya, kita telah membahas pengertian Iman Kepada Takdir. Kita tahu bahwa beriman kepada takdir adalah wajib dan salah satu dari rukun iman. Kita juga tahu bahwa keimanan itulah yang akan kita bawa kelak sebagai jaminan keselamatan ketika menghadap Allah Ta’ala, lalu bagaimana kita beriman kepada takdir? Ketahuilah, beriman kepada takdir ada empat tingkatan, yaitu:

Tingkatan pertama adalah beriman kepada ilmu Allah, bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, yang ghaib maupun yang nyata, yang sudah maupun yang belum terjadi, dari hal besar sampai hal terkecil yang ada di langit dan di bumi, hingga daun yang terjatuh gugur dari pohonnya, hingga biji yang terjatuh dalam kegelapan di bumi, hingga basah dan keringnya sesuatu. Allah Ta’ala mengetahui kondisi seluruh makhlukNya sebelum dia menciptakannya, mengetahui kondisi mereka, semuanya, baik yang rahasia maupun yang terang-terangan. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahui (pula), tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tak sesuatu yang basah atau kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (QS. Al-An’am: 59)

Tingkatan kedua mengimani bahwa Allah Ta’ala menulis dan mencatat takdir maklukNya sampai hari Kiamat dalam suatu kitab yaitu Lauh Mahfudz. Tidak ada yang terlewat. Tidak ada yang terlupakan sedikit pun.

Allah Ta’ala berfirman:

”Tidak suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” (Al-Hadid: 22)

Tingkatan ketiga yaitu mengimani kehendak (masyiah) Allah Ta’ala. Ya, kita mengimani bahwa Allah Ta’ala telah menghendaki semua yang ada di langit dan di bumi. Tidak ada sesuatu pun yang jadi tanpa kehendak Allah Ta’ala. Apa yang Allah Ta’ala kehendaki, maka itulah yang terjadi, dan apa yang tidak Allah Ta’ala kehendaki tidak akan terjadi.

Tingkatan keempat adalah mengimani bahwa Allah Ta’ala pencipta segala sesuatu. Tidak hanya menciptakan manusia, tetapi juga seluruh perbuatannya. Segala yang dilakukan oleh makhluk Allah itu semua Allah Ta’ala yang mengetahui, menciptakan, dan menghendakinya. Tak percaya? Ayo kita lihat dalilnya.

“Dan Allahlah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat” (QS. Ash-Shaffaat: 96)

Itulah tingkatan-tingkatan takdir. Kita mengimani bahwa ilmu Allah Maha Sempurna, Allah Ta’ala mengetahui segalanya. Kita juga mengimani bahwa Allah Ta’ala telah mencatat segalanya dalam Lauh Mahfudz, dan tidak akan diubah selama-lamanya, karena ketentuan itu telah sempurna tiada cacat. Kita mengimani bahwa segala yang terjadi berarti Allah Ta’ala telah menghendakinya terjadi. Dan Kita mengimani bahwa Allahlah pencipta segalanya, Allah Ta’ala yang menciptakan makhlukNya dan Allah Ta’ala pula yang menciptakan segala yang dilakukan makhlukNya.

 

Manusia juga memiliki kehendak dan kemampuan untuk memilih

Setelah membaca takdir, pengertiannya, dan beriman tentang takdir, kita mungkin akan termenung dengan dahi penuh kerut. Mungkin hati kita akan bertanya-tanya, “Kalau begitu, kalau Allah Ta’ala telah mengetahui semua yang akan terjadi pada makluknya, kalau takdir setiap manusia telah ditetapkan, kalau Allah Ta’ala yang menciptakan perbuatan, lalu apa yang harus kita lakukan? Toh, semua yang akan terjadi telah ditentukan. Apakah kita hanya berdiam diri dan mengikuti takdir?”

Tidak. Tidak begitu. Kita tetap harus berusaha karena Allah Ta’ala telah memberi kita kehendak dan kemampuan. Allah Ta’ala telah memberi kemampuan dan kehendak kepada makhluknya untuk berbuat.

Kalau misalkan manusia tidak diberi kemampuan dan kehendak, untuk apa Allah Ta’ala menurunkan syariat islam, perintah larangan-sedangkan manusia tidak memiliki kemampuan apa-apa? Berarti perintah dan larangan itu adalah pembebanan di luar kemampuan kita. Kalau manusia tidak diberi kemampuan dan kehendak, untuk apa Allah Ta’ala menciptakan surga dan neraka? Kalau manusia tidak diberi kemampuan untuk berbuat, berarti Allah Ta’ala dzalim ketika memasukkan manusia ke dalam neraka. Bagaimana tidak? Allah Ta’ala menyiksa hambaNya padahal hamba tersebut tidak memiliki kemampuan untuk berusaha agar bisa masuk ke dalam surgaNya.

Kenyataannya Allah Ta’ala menciptakan aturan, Allah Ta’ala memberi perintah dan larangan, Allah Ta’ala juga menciptakan surga dan neraka sebagai balasan perbuatan hamba-hambaNya. Itu karena manusia memiliki kemampuan untuk berbuat, untuk memilih, apakah dia akan melaksanakan apa yang Allah perintahkan, atau meninggalkan aturan Allah Ta’ala.

Kenyataannya selama ini kita hidup, selama ini kita berbuat sesuatu, itu dengan keinginan dan kehendak kita. Kita melakukan sesuatu karena ada alasannya dan kita pula yang membuat alasan itu. Apakah pada saat melakukan sesuatu kita melakukannya karena ini takdir? Apakah kita makan karena kita tau bahwa kita ditakdirkan makan? “Wah, saya ditakdirkan untuk makan, berarti saya harus makan”. Apa seperti itu? Bukan! Saat kita makan, kita memang memilih untuk makan, kita makan karena lapar, karena perlu asupan, kita makan untuk bertahan dalam kegiatan perkuliahan yang penuh beban dan tantangan (#eh). Intinya, kita makan sama sekali bukan karena kita tau kita ditakdirkan makan, iya kan? Bagaimana mungkin kita melakukan sesuatu karena mengikuti takdir, sedangkan takdirnya saja kita tidak tau?! Bahkan kita baru tahu bahwa itu adalah takdir kalau hal itu telah terjadi.

Kita sangat bisa membedakan kapan kita melakukan sesuatu karena kehendak kita, kapan kita melakukan sesuatu karena dipaksa. Dan selama ini, ketika kita melakukan sesuatu, kita memiliki alasan dan tujuan untuk melakukannya, bukan karena ‘dipaksa’ oleh takdir. Kita melakukannya tanpa ada alasan bahwa kita telah ditakdirkan untuk melakukannya. Karena kita memang tidak tahu bagaimana takdir kita, tidak ada seseorang bahkan malaikat yang ada di sisi kanan dan kiri kita yang memberitahu bagaimana takdir kita.

Oleh karena itu, amat sangat tidak masuk akal dan sangat tidak dibenarkan orang yang melakukan maksiat dan mendzalimi orang lain kemudian dia berdalih dengan takdir, bahwa dia melakukannya karena takdir. Mana mungkin?! Dia tidak tau bagaimana takdirnya sendiri. Ingat! Kita diperintahkan untuk mengimani dan membenarkan adanya takdir, bukan mengikuti takdir (takdirnya saja kita tidak tahu). Yang ada adalah perintah Allah Ta’ala untuk beribadah dan berbuat kebaikan. Mengikuti takdir adalah sebuah kepastian karena apa yang Allah Ta’ala tetapkan pasti terjadi.

Maka, bagi orang-orang seperti mereka (yaitu orang yang bermaksiat lalu berdalih dengan takdir), kita ingin bertanya, Kalau begitu mengapa kamu tidak berbuat baik kemudian beralasan bahwa kamu melakukannya karena takdir?

Kalau berdalih dan beralasan takdir dalam kemaksiatan dan berbuat kesalahan dibenarkan, pastilah hancur dunia ini. Perampok, pencuri, koruptor, pembunuh akan berkata: “Saya melakukannya karena takdir Allah, pak, bu, jadi mohon dimaklumi dan bersabar saja ya” Sungguh sangat tidak masuk akal.

Yang benar adalah, ketika kita mendapat musibah, atau tidak mendapat apa yang kita harapkan, barulah kita beralasan dengan takdir, barulah kita mengatakan “Ini adalah takdir Allah Ta’ala, apa yang Allah Ta’ala kehendaki, maka pasti terjadi”. Musibah dan hasil usaha kita itu ada di luar kemampuan kita. Kita sama sekali tidak bisa menentukannya. Sedangkan kemaksiatan, perbuatan dosa, mendzalimi orang lain ada di bawah kemampuan kita.

Jadi, pahamilah dengan seimbang dan dengan sebaik-baiknya. Jangan mendahulukan nafsu dan mencari kesempatan untuk membenarkan hal yang salah. Imani takdir dengan sebenar-benarnya iman. Pahami dengan sebenar-benarnya pemahaman. Jangan sampai kita menjadi termasuk orang-orang yang terjerumus ke dalam kesesatan dalam memahami takdir. Ya, di luar sana, ada orang-orang yang salah dalam memahami takdir. Siapakah mereka?

Bersambung insyaaAllah

Share this:

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *