Permata Orang Shalih : Sabar

Segala pujian hanya milik Allah. Maha suci Allah, Dzat yang telah menjadikan musibah sebagai pembeda antara yang jujur dan dusta keimanannya. Sebagaimana telah Allah subhanahu wata’ala firmankan :

“yaitu Allah dzat yang menjadikan kematian dan kehidupan untuk menguji diantara kalian siapakah yang paling baik amalnya”

(Al Mulk)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’dy rahimahullahu mengatakan dalam tafsir beliau :

“Yang paling baik amalnya adalah:

(1) yang paling ikhlas, dan;

(2) yang paling benar atau sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

(beliau melanjutkan) Dan Allah timpakan ujian kepada manusia berupa syahwat yang menjadikan perkaranya sempit, maka barangsiapa yang baik amalnya ketika ditimpa musibah tadi, Allah akan baikkan pula balasan atas orang tersebut baik di dunia maupun di akhirat”

Shalawat serta salam semoga terlimpah kepada baginda, Nabi Muhammad, beserta keluarga beliau yang mulia, para sahabat yang Allah ridhai, dan para pengikut Sunnah beliau hingga hari kiamat. Tidaklah seseorang patut dijadikan panutan yang paling baik, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama. Dan apa yang beliau sabdakan, tak lepas dari bimbingan Rabb azza wajalla. Tentang bagaimana Rasulullah mengajarkan kepada kita :

““perkara orang mu`min mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mu`min, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya”

Banyak sekali menegaskan kepada kita, bahwasanya hidup manusia tak lepas dari dua hal : (1) Kenikmatan (2) Ujian. Dan ini merupakan sunnatullah bagi umat-umat sebelum kita, baik dari kalangan manusia maupun selainnya. Bukankah dulu yang berdiri gagah di depan kita kini terbujur kaku dengan beragam perangkat kedokteran di tubuhnya? Bukankah yang dulu berbangga dengan kecantikannya kini telah menua seolah tiada bekas akan kebaikan di wajahnya? Bukankah dulu yang senantiasa bergelimang harta, kini harus menahan diri hidup sederhana? Kesehatan, kekuatan, kebaikan fisik, harta, kesemuanya merupakan ujian dari Allah. Untuk membedakan manakah di antara hamba yang benar keimanannya dan dusta keimanannya.

Sungguh menakjubkan ketika ulama’ kita membuka kitab beliau yang berjudul “Al Qawaidul Arba’” dengan sebuah doa:

“Semoga Allah menjadikan engkau (wahai para pembaca) termasuk hamba Allah yang ketika diberikan nikmat ia bersyukur dan ketika ditimpa musibah maka ia bersabar”

Sebagian dari kita mengatakan, betapa sulitnya sabar itu susah, sabar itu ada batasnya. Maka ketahuilah, itulah sebabnya Allah nisbatkan sabar ini hanya untuk hamba-Nya yang tunduk dan khusyu’. Sebagaimana Allah firmankan :

“Dan memintalah pertolongan lah kalian dengan shalat dan sabar, sesungguhnya ia itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu”

(Al Baqarah)

Allah subhanahu wata’ala juga memuji hamba-Nya yang bersabar atas musibah dengan pujian yang melimpah :

“Dan kami uji kalian dengan sesuatu dari rasa takut, lapar, kurang harta, meninggalnya jiwa, dan kerontangnya buah-buahan, dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar. Yaitu orang-orang yang ketika ditimpa musibah ia mengatakan Innaa lillahi wainna ilaihi raji’un (Sesungguhnya sehala sesuatu itu kembali kepada Allah dan hanya kepada-Nya kami kembali)”
(Al Baqarah)

Diharapkan bagi setiap muslim, ketika musibah itu menimpa maka jiwa sabar senantiasa menghiasinya. Karena sabar ini merupakan permata bagi orang-orang yang shalih. Ulama’ memberikan kiat agar kita bersabar atas musibah yang menimpa :

1. Berdoa kepada Allah memohon kesabaran. Sejatinya, berdoa merupakan senjata utama dan paling utama seorang mukmin ketika ditimpa ujian. Maka sebagai hamba Allah, tidaklah patut mengeduakan Allah padahal ia tahu sejatinya hanya Allah satu-satunya tempat ia kembali.

(Berikan satu contoh doa)

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

‘Robbanaa Afrigh ‘Alainaa Shobron wa Tsabbit Aqdaamanaa wanshurnaa ‘Alal Qoumil Kaafiriin’.

Artinya: “Wahai Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran atas diri kami, dan teguhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS. Al Baqarah: 250).

2. Senantiasa meyakini, bahwa ujian ini merupakan jembatan baginya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hikmah yang Allah turunkan dari setiap musibah yang menimpanya, tidak akan berkurang meski ia tidak mengetahuinya. Allah subhanahu wata’ala timpakan untuk umat-umat sebelum kita dengan ujian yang sangat berat, bagaimana pengikut nabi Musa harus berlari dari kejaran fir’aun dan keluarganya, Umat nabi Muhammad yang pertama kali masuk islam harus menahan perih karena pertentangan dari kaumnya. Maka seberapa besar musibah kita dibandingkan musibah orang-orang yang Allah pilih?

3. Bahwasanya musibah itu bertingkat, berdasarkan kemuliaan seseorang di sisi Allah. Sebagaimana sebuah hadist dari rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama:

 ( قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ ! أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً ؟ قَالَ : الأَنْبِيَاءُ ، ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ ، فَمَا يَبْرَحُ البَلاَءُ بِالعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ ) .

Aku (Sa’id bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu) berkata :

“Wahai Rasulullah golongan manusia seperti apa yang paling berat ujiannya?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama menjawab :

Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa”

Tidaklah diri kita ini, melainkan jauh sekali dari apa yang dikategorikan ke dalam golongan orang-orang yang bersabar atas musibah yang menimpa. Maka nasehat untuk saya pribadi dan saudara semua, mari kita menengadahkan tangan kepada Allah agar kita digolongan orang yang senantiasa bersabar dalam setiap musibah dan bersyukur atas setiap nikmat. Washallallahu ‘alannabiy Muhammad, walhamdulillahi rabbil alamin

Share this:

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *